Adab Menerima dan Men-share Berita




Bismillah

Sobat, kalau kita mau menelisik lebih jauh, di era social media yang semakin hari semakin menggurita ini, kita akan jumpai berbagai berita yang terserak dan berceceran dimana-mana...duh jadi kayak judul ILC tempo hari. Semua informasi tersebut seolah tak terbendung. Kita pun bisa dengan mudah menerima, dan sayangnya...juga membagikan arus informasi tersebut tanpa berpikir ribuan kali.


Sebagian orang pun dengan mudahnya berkomentar tanpa mengetahui apakah ia memberikan iktirad dengan dilandasi ilmu dan pemahaman yang cukup atau tidak. Pun, ia tak tahu menahu tentang adab dalam bermedia sosial.






Pasti pernah mendengar kutipan dari pakdhe Ernest Hemingway tersebut kan? Ada yang tahu siapa dia? Oh bukan...bukan, dia bukan pakdhenya Ernest Prakasa. Ernest Miller Hemingway ini seorang novelist, penulis cerita pendek sekaligus wartawan dari Amerika. Salah satu karya Hemingway yang pernah saya bedah di bangku kuliah adalah The Sun Also Rises.


Baiklah. Kita tidak akan membahas Hemingway lebih detail. Saya hanya tertarik dengan kutipan yang dia buat.


Bagaimana tidak, kalau dipikir-pikir, ada benarnya juga kutipan dari Hemingway tersebut. Manusia membutuhkan waktu 'hanya' dua tahun saja untuk belajar bicara tapi ia butuh waktu selama lima puluh tahun untuk belajar diam. Artinya apa?


Manusia cenderung tidak bisa menahan lisan baik di social media maupun di dunya nyata. Dan akibat keseleo lisan, fatal akibatnya. Kenapa bisa fatal? Karena bisa jadi lisan kita mencela dan berkata kotor yang tentu saja membuat kita "bagi-bagi pahala gratis" untuk orang yang kita cela.


Bijak dalam men-share berita

Kita pasti sering mendengar, melihat, dan membaca rentetan berita yang viral. Kalau menurut KBBI daring, kata viral berarti (bersifat) menyebar luas dan cepat seperti virus. Pemviralan berita di era informasi yang serba cepat ini semakin didukung oleh kemajuan teknologi internet. Kalau dulu mungkin berita menjadi viral hanya by word of mouth maka di zaman ini, berita viral melalui media internet.


Sob, ada satu kaidah yang harus kita pegang, yaitu bahwa tidak semua berita pantas dan layak kita share. Mengapa? 

Ingatlah bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:

“Cukuplah sebagai bukti kedustaan seseorang bila ia menceritakan segala hal yang ia dengar.”(HR. Muslim)


Dikit-dikit kita share, dikit-dikit kita share, meskipun itu berita yang sedang viral, sebaiknya kita menahan diri untuk tidak men-share. Jangan bermudah-mudahan mem-viral-kan informasi, karena bisa jadi berita yang sedang viral tersebut tidak terjamin kebenarannya. Jangan sampai pula kita digelari "si pendusta" sebagaimana hadits tersebut di atas hanya karena kita mudah sekali men-share berita.


Tergesa-gesa dalam men-share berita melalui berbagai aplikasi seperti Facebook, Twitter, dan WhatsApp bisa menimbulkan kerusakan, ketakutan, kebingungan dan kekhawatiran bagi sebagian orang. Lalu, ada nggak sih kaidah dalam memviralkan suatu berita?


1. Check kebenaran berita

Allah Ta'ala berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujuraat: 6)


Jika ada suatu berita, alangkah baiknya kita mencermati kebenaran isi berita dengan bertanya kepada orang yang lebih mengetahuinya. Betapa banyak di zaman ini, orang men-share berita dengan grusa grusu tanpa tahu kebenarannya. Setelah berita tersebut tersebar luas dan ternyata bohong, tidak ada klarifikasi atas kebohongan berita.


Terlebih, ada pula sebagian orang yang gemar men-share hadits-hadits palsu yang mengatasnamakan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Ini yang perlu kita waspadai karena berdusta atas nama Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam ancamannya berat, lebih berat daripada rindunya Dilan ke Milea.


2. Bermanfaatkah berita tersebut?

Setelah kita tahu kebenaran suatu berita nih, apakah boleh langsung kita share? Tentu saja tidak. Sobat, tidak semua berita layak kita share. Adakalanya berita tersebut cukup kita simpan sendiri.


Namun, jika memang telah jelas kebenarannya sebagaimana matahari yang bersinar terik di siang hari, tanyakan pada diri sendiri bahwa ketika kita share berita tersebut, akankah membawa manfaat atau justru memberi mudharat / keburukan.


Jika memang memberi manfaat dan beritanya shahih, silakan. Tapi jika sebaliknya, justru mengakibatkan keresahan, ketakutan, dan kegaduhan maka sebaiknya kita diam/ tidak menyebarkannya. Atau kita bisa menunggu waktu yang tepat untuk menyampaikannya.


Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Kita tentu pernah mendengar suatu hadits yang berisi bagaimana Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu mendapatkan ilmu dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bahwa semua orang yang mengucapkan syahadat dengan jujur dan syahadatnya tidak batal, maka ia akan masuk surga. Saat itu, saking gembiranya, Mu'adz bin Jabal pun hendak menyebarkan berita tersebut. Namun, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam melarangnya. Kenapa Beliau melarang? Karena Beliau khawatir manusia akan malas beramal jika berita tersebut disampaikan saat itu juga. Mu'adz pun menyimpan berita ini, baru ketika menjelang kematian beliau, beliau menyampaikan kabar gembira tersebut.


Pelajaran apa yang bisa kita ambil? Bahwa terkadang kita hanya perlu menyampaikan satu berita kepada orang tertentu saja. Dan menyimpan suatu berita dalam kondisi tertentu, terkadang akan membawa kebaikan. 


Cara menyikapi kejadian viral

Setelah kita ketahui bagaimana kaidah dalam men-share berita, maka langkah apa yang sebaiknya kita lakukan ketika berhadapan dengan kejadian viral?


1. Tidak bermudah-mudahan men-share

Perhatikan lagi kaidah dalam menyebar luaskan berita. Check ulang apakah berita itu benar atau hoaks. Pun jika terbukti kebenarannya, jangan tergesa-gesa men-share. Kita pertimbangkan lagi apakah ada manfaat atau mudharatnya. Hal ini berlaku untuk berita baik dan buruk.


2. Tidak mudah berkomentar

Sobat, tidak selamanya kejadian viral itu harus kita share dan kita komentari. Kemudahan dalam berkomentar di social media membuat sebagian orang lebih suka bicara daripada diam, padahal ada satu kaidah bahwa:

“Tulisan (hukumnya) sebagaimana lisan”.

Maksudnya adalah apapun yang kita tulis juga akan dimintai pertanggungjawabannya kelak di akhirat.


Lebih jauh, jika kita tak memiliki ilmu tentang suatu hal, maka sebaiknya kita menahan diri untuk tidak berkomentar. Karena orang yang bicara tanpa ilmu itu sangat berbahaya, tidak hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk orang lain.

3. Diam

Ada benarnya ungkapan "diam adalah emas". Karena saat kita terlalu banyak bicara atas hal yang tidak kita kuasai dengan baik, kita sendiri yang malu. Pun, terlalu banyak bicara akan mengeraskan hati.


Kesimpulan

Dari beberapa uraian di atas, kita bisa menarik kesimpulan bahwa ketika kita ingin men-share suatu berita, pastikan bahwa:

1. Berita tersebut benar,
2. Berita tersebut memiliki manfaat bagi masyarakat.


Adapun jika kita terlanjur mengetahui kejadian viral, maka sebaiknya kita:

1. Tidak bermudah-mudahan menyebarkan berita,
2. Tidak mudah memberi komentar tanpa disertai ilmu,
3. Diam. Inilah salah satu kunci agar kita selamat dari tergelincirnya lisan.


Semoga yang sedikit ini bermanfaat


Barakallahu fiik


Note:
Iktirad= komentar


Photo credit:

pexels.com/PhotoMIX Ltd. 

Adab Menerima dan Men-share Berita Adab Menerima dan Men-share Berita Reviewed by Renita Oktavia on Desember 22, 2018 Rating: 5

5 komentar:

  1. Setuju banget mba, diam lebih baik daripada ikutan menulis opini tanpa ilmu.
    Keren banget artikelnya, sebagai pengingat di zaman now yang makin menyedihkan perlakuan orang-orang terhadap berita2 yang ada.
    Semoga kita semua bisa lebih bijak dalam menyikapi setiap berita yang ada :)

    BalasHapus
  2. Dulu sekali, saya tipikal orang yang suka beropini. Dan memang gak ada faedahnya, apalagi tanpa mengalami dan ilmunya. 😁😁 .. semata-mata cuma denger (katanya) 🤦🏿‍♂️🤦🏿‍♂️🤦🏿‍♂️🤦🏿‍♂️

    BalasHapus
  3. Such an amazing article.
    Thumbs up Nita

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.